Langgara Tungga atau langgar tua bersejarah terletak di desa Tana toro Kecamatan Pitu Riase Kabupaten Sidenreng Rappang, berada di titik koordinat S 03 39 060, E 120 02 330 dengan ketinggian 216 meter diatas permukaan laut. Secara etimologinya Langgara berarti langgar atau panggung yang dinaiki sedangkan Tungga adalah satu, tunggal. Langgar ini menurut cerita dari imam dan tokoh masyarakat setempat didirikan oleh Sando batu yang bernama Aceh yang keturunannya sudah mencapai 12 susun, didirikan sekitar abad ke-17. menurut wawancara dari Imam Langgar tersebut mengatakan bahwa pada mulanya ada 7 daerah yang singgah bersembahyang di Langgar/ mesjid ini ditambah dengan tuan rumah sehingga menjadi delapan dan wujudkan dengan bentuk tiang bangunan ini persegi delapan. Ukuran bangunan ini adalah panjang 8,5 meter, lebar 8 meter dan tinggi sekitar 5 meter. Langgara Tungga mempunyai 22 tiang terbuat dari kayu bitti, berbentuk rumah panggung, beratap ijuk, memiliki 12 jendela dan kondisinya sekarang terawat dan sudah beberapa kali mengalami renovasi. Langgar ini juga dipakai untuk shalat Jum'at.
"The Mosque of Langgara Tungga was the old building in region of Sidenreng Rappang. This build was built at 17 century by Sando Batu and the ather figur moslem the last time ago. This build were located in the top of mounthain in Tana Toro village, distric of Pitu Riase, Sidenreng Rappang Regency, South Sulawesi Provinsi of indonesia and had koordinat S 03 39 060, E 120 02 330 with elevation 216 meters.
Bungnge Tjitta'E atau sumur/ mata air Tjitta'E berbentuk persegi empat menyerupain kolam dengan dasar kolam/ mata air tersebut dipenuhi dengan batu-batuan yang ditumbuhi dengan lumut. Ukuran panjang kolam adalah 8 meter dan lebar 7 meter dengan kedalaman kira-kira 1,5 meter. Orientasi sumur menghadap dari utara ke selatan dan disebelah utara dan selatan di tumbuhi pohon beringin beringin yang umurnya mencapai puluhan tahun.Warna mata air tersebut berwarna putih jernih dan mengalir melalui parit di sebelah timur.
Bungnge Tjitta'E tersusun dari bebatuan dan dipagari beton setinggi 40 cm dan posisi situs ini terletak didesa Allakuang, Kecamatan MaritengngaE Kabupaten sidenreng Rappang Propinsi Sulawesi-Selatan dengan titik koordinat S 03 97 209, E 119 79 600, dan berada diketinggian 67 meter di atas permukaan laut dengan luas areal situ kurang lebih 14 X 16 meter.Jarak situs ini dengan pusat ibukota kabupaten sekitar 5 kilometer. Mata air ini menurut sejarah adalah mata air yang muncul dari dalam tanah dari sentakan kaki kanan La Pagala ( Nenek Mallomo ) yang ketika itu terjadi pada masa paceklik atau kemarau panjang yang terjadi di daerah ini untuk kebutuhan hidup dan berwudhu. Kejadian ini adalah kejadian yang luar biasa sehingga sumur tersebut disebut juga sebagai sumur Nenek Mallomo dan hingga saat ini masih di pelihara dan dijaga oleh masyarakat sekitarnya.
" The Well of Bungnge Tjitta'E is the amazing well in Sidenreng Rappang Regency because the situs had history background the kingdom of Sidenreng, South Sulawesi. The situs were located in Allakuang village, distric of MaritengngaE, Sidenreng Rappang regency South Sulawesi of Indonesia with koordinat S 02 97 209, E 119 79 600, elavation 67 meters. The situs distance about 5 kilometers from town of Pangkajene.
Nenek Mallomo terkenal sebagai tokoh Intelektual dan cendikyawan masyarakat Sidenreng Rappang pada khususnya dan Sulawesi-Selatan pada umumnya. Makam ini terletak di desa Allakuang Kecamatan MaritengngaE Kabupaten Sidenreng Rappang Propinsi Sulawesi-Selatan dengan titik koordinat S 03. 97 439", E 119.79 482 ", berada di ketinggian 67 meter di atas permukaan laut dengan luas Areal situs sekitar satu hektar. Makam Nenek Mallomo ini terbuat dari bahan dasar batu kali dan andessif dengan warna hitam, abu-abu dan putih perak dengan tiga buah batu nisan, 2 batu nisan yang masih asli berbentuk sebongkah batu berukuran kecil dan yang satu batu nisan yang baru dengan bentuk gada. Orientasi makam menghadap dari utara ke selatan, mewakili masa gaya Islam. makam tersebut dibuatkan atap seng dengan empat pilar beton dengan dipasangkan porselin keramik warna biru muda dan putih dan dipasangkan pagar besi berwarna hijau. Nenek Mallomo atau nama aslinya" La Pagala " besaral dari Toraja menurut keterangan/ sumber dari beberapa Lontara adalah seorang tokoh yang terkenal akan kecerdasan/ intelektual, ahli pikir, ahli hukum dan tata pemerintahan pada masa kejayaan kerajaan Sidenreng. Beliau menjabat menjadi penasehat Raja Sidenreng dan menurut kabar beliau menjabat selama 3 Raja/ Addatuang Sidenreng dan mengalami masa kejayaan pada masa pemerintahan Addatuang Sidenreng La Patiroi deng membangun Mesjid Tua Jerra'E di Allakuang sebagai tanda masuknya Islam pertama di wilayah kerajaan Sidenreng pada masa itu. Bersama dengan Syeh Bojo yang juga berperan serta dalam pendirian Mesjid Tua Jerra'E pada tahun 1609 Masehi. Ketenaran figur Nenek Mallomo sampai ke beberapa wilayah kerajaan di Sulawesi pada umumnya sehingga nama Nenek Mallomo menjadi ikon bagi Kabupaten Sidenreng Rappang. Nenek Mallomo juga merupakan kerabat dari tokoh intelektual kerajaan lain di Sulawesi seperti Puang Ri Maggalatung dan sebagainya. Kata- kata bijaknya dan pola pikir serta cita-cita menjadi pedoman bagi masyarakat Sidenreng Rappang dan menjadi tokoh kebanggaan masyarakat Sidrap hingga saat ini.
" The Figur Nenek Mallomo ( La Pagala ) was the intelectual man in Kingdom of Sidenreng expert of Law, skilled of goverment and become advicer the King Of Sidenreng the last time ago. He was very famous in some kingdom in Suoth Sulawesi. The grave Nenek Mallomo werw located in Allakuang village, distric of MaritengngaE, Sidenreng Rappang Regency of South Sulawesi Provincy Indonesia. The situs were located in koord S 03.97 439", E 119.79 482" with elavasy 67 meters.
Makam Nenek Bolong Aje adalah situs yang tidak pernah didata dan di ekspos atau dipublikasikan di wilayah Sidrap maupun di sekitarnya. Situs ini terletak di desa Wala-Wala, Kecamatan Pitu Riase Kabupaten Sidenreng Rappang Prop. Sulawesi-Selatan. Situs ini berada di atas ketinggian/ di atas pegunungan berdekatan dengan lereng gunung Latimojong Kab. Enrekang dengan elevasi 210 meter diatas permukaan laut dan berada di titik koordinat S 03.38 057, E 120. 07 566, menempati areal situs seluas 6 X 8 meter di tengah pepohonan hutan yang masih asli dengan sebelah timurnya sungai. Bentuk makam persegi dengan panjang badan makam 2,70 m, lebar 1,20 m dan tinggi batu nisan 20 cm, bentuk batu nisannya berupa sebongkah batu bentuk lonjong berukuran kecil. Bahan dasar batu nisan terbuat dari batu kali dengan warna abu-abu kebiru-biruan. Orientasi makam menghadap dari timur ke barat, Nenek Bolong Aje adalah seorang panglima perang kerajaan Batu yang tegas dan gigih dalam menghadapi musuh. Beliau pernah berperang melawan Datu Rong di wilayah Sulawesi-Tengah kerajaan Kaili sekitar abad ke 18 Masehi. Diperkirakan masa pemerintahan beliau sekitar tahun 1700 Masehi. Kerajaan Batu adalah kerajaan tertua di wilayah Sidenreng Rappang yang berada di pegunungan berbatasab dengan Kab. Enrekang dan menjalin persahabatan dengan kerajaaan tetangga seperti kerajaan Luwu, Toraja, Wajo, Duri, Maiwa Sidenreng dan sebagainya. Dijuluki Bolong Aje atau Hitam Kaki karena Beliau mempunyai kaki yang berwarna hitam di kaki kirinya.
The King of Batu in Sidenreng Regency, South Sulawesi Indonesia had the Leader military the name is Nenek Petta Bolong Aje. The Grave situs Nenek Bolong Aje were located in Wala-Wala Village, Distric of Pitu Riase, Sidenren Rappang Regency, Indonesia.He was the sword and the hero in the Kingdom of Batu.
Makam Addatuang Sidenreng La Panguriseng terletak di desa Allakuang Kecamatan MaritengngaE Kabupaten Sidenreng Rappang Prop Sulawesi Selatan. Berada di titik koordinat S 03. 58 21, E 119. 47 50,0 dan berada di ketinggian 67 meter di atas permukaan laut dengan luas arel situs 1,507,84 meter. Ukuran makam tersebut adalah panjang 2 meter, lebar 1, 5 meter da tinggi batu nisan 1, 1 meter, bahan dasar batu nisan makam terbuat dari batu padas dan Andessif berwarna abu-abu dan putih perak di lengkapi dengan porselin dan pagar besi berwarna hijau muda. La Panguruseng adalah Addatuang ( Raja ) Sidenreng ke-VIII setelah menggantikan ayahnya yaitu La Pawawoi Addatuang Sidenreng ke - VII. Selama masa pemerintahannya di jalankan secara bijaksana dan tegas, kegiatan keagamaan digalakkan dan dipusatkan di mesjid Tua Jerra'E Allakuang. Kondisi makam terawat baik dan biasa dikunjungi para pesiarah baik dari keluarga maupun masyarakat di Sidrap dan dari luar daerah.Situs ini membuktikan kebesaran kerajaan Sidenreng pada masa lalu.
The Grape of King Sidenreng VIII La Panguriseng were located in Allakuang village, distric of MaritengngaE Sidenreng Rappang Regency, South Sulawesi Provincy of Indonesia. On the periode of King La Panguriseng becone the forward for Kindom Sidenreng for the sample for activity religius, human relation and relatioship for a lot of kindom in Sulawesi region like the Kingdom Gowa, Luwu, Mandar and so on. The grape were koordinat S 03 58 21, E 119 47 50,0 and elevasy 67 meters.
Makam Sndo Batu I berada di desa Wala-Wala Kecamatan Pitu Riase Kab. Sidenreng Rappang Propinsi Sulawesi-selatan. Makam Sando Batu berada di atas ketinggian 760 meter di atas permukaan laut dengan titik koordinat S 03'38 348, E 120'08 283, berada di atas pegunungan lereng gunung Latimojong perbatasan antara Kab. Sidrap dan Kab. Enrekang. Makam Sando batu I mempunyai ukuran panjang 2 meter, lebar 95 cm, tinggi batu nisan 40 cm, lebar batu nisan 10 cm. Batu nisan terbuat dari batuan andessif, orientasi makam menghadap utara selatan, Batu nisan kondisinya kurang terawat dan ditumbuhi lumut dengan bentuk menhir ukuran kecil, warna batu nisan abu-abu keputih-putihan dan usia makam tersebut sekitar 500 tahun yang lalu.. Sando batu ini memerintah pada dua fase yaitu masa pra Islam dan masa masuknya Islam, sebelum masuknya Islam Sando Batu merangkap jabatan sebagai kepala pemerintahan dan pemangku adat kemudian setelah masuknya Islam maka kekuasaan terbagi menjadi 2 yaitu : Raja dan Sando, dimana Raja mengurusi pemerintahan dan Sando mengurusi pemangku adat dan melantik Raja, jadi sama fungsinya sebagai Dewan Perwakilan Rakyat.
Pusat kerajaan Batu terletak di Tana Toro dan struktur pemerintahan Sando terbagi menjadi 4 Sando yaitu : Adat Kampung yang mengurusi pemerintahan, Adat Sanro untuk pengobatan, Adat Sorong mengurusi pertanian dan Sanro Sara mengurusi Agama. Kerajaan Batu merupakan kerajaan tertua di wilayah kab. Sidenreng Rappang yang sejak awal telah menjalin hubungan dengan kerajaan tetangga seperti kerajaan Luwu, Duri, Maiwa Enrekang, Toraja, Sidenreng, wajo dan sebagainya.
Makam Sulewatang Arung Batu ke-10 terletak di desa Compong, Kecamatan Pitu Riase Kabupaten Sidenreng Rappang Prop. Sulawesi-Selatan berada di atas bukit dengan ketinggian dari permukaan laut 193 meter dan berada di titik koordinat S 03. 73 708, E 120. 14 031, menempati areal kurang lebih 2 hektar. Makam Sulewatang Arung Batu ke-10 ini batu nisannya berbentuk manusia dengan kepala dan badan, hal tersebut menandakan bahwa beliau dikutuk karena ingin merebut kekuasaan Raa pada masa itu atau menghianat kepala pimpinan dalam hal ini Arung Batu. Diperkirakan usia makam ini berkisar 300 tahun yang lalu sekitar abad ke-18 Masehi. Orientasi maka menghadap dari utara selatan dan bahan dasar makam tersebut terbuat dari batu padas.
" The gapre Sulwatang Arung Batu - X was located in Compong village, distric of Pitu Riase , Sidenreng Rappang Regency Provinci of South Sulawesi Indonesia. The grape type like a human and very intreristic performance. The grape have memory and a bag history from Batu Kingdom because the Sulewatang as enemy from the King Batu -X. The grape has koordinat S 03 73 708, E 120 14 031 ang elevasy 193 meters.
Mesjid Tua Jerra'E Allakuang adalah bangunan Cagar Budaya di Kab. Sidenreng Rappang Prop. Sulawesi-Selatan. Mesjid ini terletak di desa Allakuang Kec. Maritengnga'E dibangun di atas areal seluas 21 X 12 meter, bagian atapnya bersusun tiga yang menyerupai Mesjid Demak di pulau Jawa. Mesjid ini dibangun pada tahun 1609 M Oleh Addaowang Sidenreng terakhir/ Addatuang Sidenreng I La Patiroi beserta Nenek Mallomo ( La Pagala ) dan Syeh Bojo. Lokasi ini berada di atas ketinggian 67 meter di atas permukaan laut dengan titik koordinat S 03,58 21, E 119, 47 50,0 dan luas areal 1.507,84 m. mesjid ini adalah salah satu mesjid tertua di Sulawesi-Selatan selain Mesjid Katangka di Gowa dan Mesjid Jami di Palopo.
The Mosque of Jerra'E was located in Allakuang Village, Distric of Maritengnga'E, Sidenreng Rappang Regency, South Sulawesi Provinsi Indonesia. The Mosque was old and the first Mosque in South Sulawesi was built in 1609 by the King Sidenreng La Patiroi with Syeh Bojo and Nenek Mallomo.
Situs Batu Tedong terletak di desa Cenrana Kec. Panca Lautang kab. Sidenreng Rappang Prop. Sulawesi-Selatan, berada di atas ketinggian 100 meter diatas permukaan laut dengan titik koordinat S 04,06 374, E 119, 82 230. Berada di dalam kompleks Makam Pammase Tau yang menurut cerita masyarakat dan penjaga makam adalah kerbau peliharaan Pammase Tau. Situs ini berbentuk bulat lonjong menyerupai badan kerbau dan kemudian disakralkan oleh masyarakat sekitarnya. Batu Tedong ini mempunyai ukuran panjang kurang lebih 2 meter da lebar 1 meter terbuat dari batu padas dan orientasi menghadap dari barat ke timur.]
The Situs Buffallo stone was located in Cenrana village, distric of Panca Lautang, Sidenreng Rappang Regency Indonesia.] The situs was located in Muontain and have koord S 04 06 374, E 119 82 230.
Makam Tua Pammase Tau
Makam Pammase Tau adalah Makam berupa Batu Menhir yang berusia sekitar lima ratus tahun. Konon kabarnya Pammase Tau adalah seorang yang orang yang diberkati dan menjadi panutan bagi masyarakat sekitarnya. Makam tersebut terletak di desa Cenrana Kecamatan Panca Lautang Kab. Sidenreng Rappang Propinsi Sulawesi-Selatan. Berada dititik koordinat S 04.06 374, E 119.82 230. dengan luas arel makam sekitar 550 m dan berada di ketinggian kurang lebih 100 meter diatas permukaan laut. Batu Menhir tersebut terbuat dari batu padas dan batu menhir itu berukuran, panjang 120 cm, lebar 38 cm dan tinggi 120cm. Makam Pammase Tau terletak di dalam ruangan persegi empat beratap seng dikelilingi tembok dan didekatnya terdapat 2 makam menhir yaitu istri dan keranbatnya. Orientasi makam tersebut menghadap dari barat ke timur. Dilihat dari masanya makam tersebut mewakili masa pra Islam.
Menurut cerita Pammase Tau adalah seorang musyafir yang melakukan perjalanan beserta rombongan ke suatu tempat dan akhirnya tiba di daerah Bilokka Sidrap.Beliau adalah seorang bangsawan dari daerah Pacekke Barru dengan nama aslinya adalah Lamende Daeng Masikki.
The Grape Pammase Tau was the grape type Menhir who of old period the last time ago. About 500 years ago and were located in Cenrana village, distric of Panca Lautang, Sidenreng Rappang Regency Indonesia. The Situs were located in koord S 04 06 374, E 119 82 230.
